Sejarah Nusa Penida: Asal-Usul, Kerajaan, Pura, Budaya dan Fakta Terbaru

Superadmin 15 September 2026 42 views
Sejarah Nusa Penida: Asal-Usul, Kerajaan, Pura, Budaya dan Fakta Terbaru

Sejarah Nusa Penida tidak hanya berkaitan dengan pariwisata, tetapi juga kerajaan, Dalem Bungkut, pura sakral, tradisi dan budaya lokal. Simak sejarah lengkapnya, termasuk peta, desa, jumlah penduduk dan kisah di balik sejumlah destinasi populer Nusa Penida.

Bali, 8islandadventure.com - Sejarah Nusa Penida memiliki hubungan panjang dengan perkembangan Bali, kerajaan Gelgel dan Klungkung, serta tradisi Hindu yang masih hidup hingga sekarang. Pulau yang kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Bali ini menyimpan cerita tentang kerajaan, tokoh penguasa, pura kuno, tradisi spiritual hingga legenda masyarakat.

Secara administratif, Nusa Penida bukan hanya nama sebuah pulau, tetapi juga nama kecamatan di Kabupaten Klungkung, Bali. Kecamatan ini mencakup Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan serta memiliki 16 desa dinas.

Karena itu, ketika membahas sejarah Nusa Penida, kita perlu melihatnya dari beberapa sisi sekaligus: sejarah politik, babad dan lontar, perkembangan masyarakat, budaya, serta perubahan kawasan menjadi destinasi pariwisata seperti sekarang.

Sejarah Nusa Penida Secara Singkat

Sejarah Nusa Penida sudah berlangsung jauh sebelum pulau ini terkenal sebagai tujuan wisata seperti sekarang. Catatan dan tradisi mengenai Nusa Penida menunjukkan bahwa pulau tersebut telah lama memiliki hubungan politik, keagamaan dan budaya dengan wilayah Bali.

Salah satu tema penting dalam sejarah Nusa Penida adalah hubungannya dengan kerajaan-kerajaan di Bali. Dalam berbagai sumber tradisional, nama Dalem Bungkut atau Dalem Dukut muncul sebagai tokoh penguasa Nusa Penida yang kemudian berhadapan dengan kekuasaan Gelgel. Kisah tersebut menjadi salah satu bagian penting dari Babad Nusa Penida dan tradisi sejarah masyarakat setempat.

Namun, perlu dibedakan antara sumber sejarah tertulis dengan babad atau cerita tradisional. Babad memiliki posisi penting dalam memahami ingatan sejarah dan budaya Bali, tetapi detail kronologi di dalamnya tidak selalu dapat diperlakukan sama dengan data sejarah modern.

Nusa Penida Kecamatan Apa?

Nusa Penida merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali.

Kecamatan Nusa Penida memiliki karakter geografis yang berbeda dari wilayah Klungkung daratan karena berbentuk kepulauan. Pemerintah Kecamatan Nusa Penida menjelaskan bahwa wilayahnya terdiri atas tiga pulau berpenghuni, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan dan Pulau Nusa Ceningan.

Secara administratif, kecamatan ini terdiri dari 16 desa dinas dan 48 desa adat. Pusat pemerintahan kecamatan berada di Desa Batununggul.

16 Desa di Nusa Penida

Berikut desa dinas yang berada di Kecamatan Nusa Penida:

No.Desa
1Sakti
2Batumadeg
3Klumpu
4Batukandik
5Sekartaji
6Tanglad
7Suana
8Batununggul
9Kutampi
10Ped
11Kampung Toyapakeh
12Lembongan
13Jungutbatu
14Pejukutan
15Kutampi Kaler
16Bunga Mekar

Daftar tersebut merupakan wilayah administratif Kecamatan Nusa Penida yang juga menjadi dasar pengelompokan data kependudukan dan pemerintahan daerah.

Peta Nusa Penida dan Letaknya

Nusa Penida berada di sebelah tenggara Pulau Bali dan secara administratif termasuk Kabupaten Klungkung.

Wilayah kecamatan ini memiliki luas sekitar 202,84 kilometer persegi menurut data pemerintah daerah. Posisi geografisnya membuat Nusa Penida memiliki hubungan laut yang sangat kuat dengan Bali daratan maupun pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Jika melihat peta Nusa Penida, wilayah pulau dapat dibayangkan dalam beberapa kawasan utama. Bagian barat dikenal dengan destinasi seperti Kelingking, Broken Beach dan kawasan Paluang, sedangkan bagian timur dan tenggara memiliki Atuh, Diamond Beach serta sejumlah lokasi spiritual.

Wilayah utara juga memiliki sejumlah pusat aktivitas masyarakat, termasuk Ped, Toyapakeh dan Batununggul.

Berapa Jumlah Penduduk Nusa Penida?

Jumlah penduduk Nusa Penida terus mengalami perubahan seiring perkembangan wilayah dan aktivitas ekonomi.

Data terbaru yang tersedia dalam Kabupaten Klungkung Dalam Angka 2025 mencatat jumlah penduduk Kecamatan Nusa Penida pada 2024 sekitar 65,82 ribu jiwa. Angka tersebut bersumber dari pengolahan data administrasi kependudukan Kemendagri semester II 2024.

Sebagai pembanding, publikasi Kecamatan Nusa Penida Dalam Angka 2024 mencatat 64.580 jiwa berdasarkan data konsolidasi bersih semester II 2023. Artinya, angka kependudukan memang berubah dari tahun ke tahun.

Karena itu, jika kamu menulis angka jumlah penduduk Nusa Penida untuk artikel yang ditujukan pada Google Search, sebaiknya selalu mencantumkan tahun data agar pembaca tidak menganggap angka tersebut sebagai jumlah penduduk tetap.

Babad Nusa Penida dan Kisah Dalem Bungkut

Babad Nusa Penida menjadi salah satu sumber penting ketika membicarakan sejarah tradisional pulau tersebut.

Dalam berbagai sumber tradisional, Dalem Bungkut atau Dalem Dukut disebut sebagai penguasa Nusa Penida. Kisah tentang dirinya berkaitan erat dengan hubungan Nusa Penida dan Kerajaan Gelgel di Bali.

Menurut tradisi yang dikaitkan dengan Babad dan Purana Pura Dalem Ped, Nusa Penida pada suatu masa berada dalam hubungan politik dengan Gelgel. Konflik kemudian terjadi ketika Dalem Bungkut berhadapan dengan kekuasaan Gelgel.

Salah satu versi cerita menyebutkan bahwa I Gusti Jelantik Bogol atau Ki Jelantik Bongahya dikirim untuk menghadapi Dalem Bungkut. Cerita tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari memori budaya masyarakat Bali dan Nusa Penida.

Situs kebudayaan Pemerintah Provinsi Bali juga mencatat tradisi mengenai pengiriman Kyai Jelantik Bogol dari Gelgel untuk menundukkan Dalem Bungkut dan menyebut sekitar tahun 1625 sebagai periode penting dalam kisah tersebut.

Siapa Dalem Bungkut?

Dalem Bungkut merupakan tokoh penguasa yang sangat penting dalam narasi sejarah tradisional Nusa Penida.

Namanya tidak hanya muncul dalam cerita tentang kerajaan, tetapi juga berkaitan dengan sejumlah tempat suci dan tradisi spiritual di Nusa Penida.

Dalam beberapa sumber, Dalem Bungkut juga disebut Dalem Dukut atau Dalem Nusa. Perbedaan penyebutan ini perlu diperhatikan karena sumber tradisional Nusa Penida memiliki berbagai versi cerita.

Yang jelas, nama Dalem Bungkut menjadi salah satu kunci untuk memahami bagaimana masyarakat Nusa Penida menghubungkan sejarah politik masa lalu dengan tradisi keagamaan yang masih berlangsung sampai sekarang.

Sejarah Pura Dalem Ped Nusa Penida

Pura Dalem Ped merupakan salah satu pusat spiritual paling penting di Nusa Penida.

Pura ini berada di Desa Ped dan terletak di kawasan pesisir. Pemerintah Desa Ped mencatat bahwa sejarah desa dan pura banyak diwariskan melalui sumber lisan, artefak dan berbagai sumber tradisional.

Nama Pura Dalem Ped juga memiliki hubungan dengan kisah penguasa Nusa Penida. Dalam salah satu kajian, istilah “dalem” tidak semata-mata dipahami sebagai nama jenis pura, tetapi juga dikaitkan dengan sebutan raja atau penguasa Nusa Penida pada masa lampau.

Kompleks Pura Dalem Ped

Kompleks Pura Dalem Ped memiliki beberapa bagian penting, antara lain Pura Segara, Pura Taman, Penataran Ratu Gede Mecaling, Pelebaan Ratu Mas dan Bale Agung.

Pura tersebut memiliki posisi penting dalam kegiatan tirtha yatra umat Hindu dari Bali dan daerah lainnya.

Karena itu, sejarah Pura Dalem Ped tidak dapat dipisahkan dari sejarah spiritual Nusa Penida secara keseluruhan.

Sejarah Pura Goa Giri Putri Nusa Penida

Pura Goa Giri Putri berada di Desa Suana dan merupakan salah satu pura yang paling unik di Nusa Penida karena berada di dalam gua.

Penelitian akademik mengenai Pura Goa Giri Putri menyebutkan bahwa pura tersebut memiliki sejarah yang dikaitkan dengan masa pemerintahan Dalem Bungkut. Penelitian tersebut juga membahas keberadaan unsur kepercayaan Hindu dan pengaruh tradisi Majapahit dalam perkembangan pura.

Gua ini memiliki pintu masuk yang sangat sempit, tetapi bagian dalamnya jauh lebih luas. Kondisi tersebut membuat Goa Giri Putri menjadi tempat yang bukan hanya penting secara spiritual, tetapi juga menarik dari sisi sejarah dan geologi.

Mengapa Goa Giri Putri Penting?

Goa Giri Putri digunakan untuk kegiatan keagamaan dan ritual umat Hindu.

Salah satu karakteristiknya adalah adanya beberapa area atau stasiun persembahyangan di dalam gua. Sumber perjalanan dan kajian mengenai pura ini menyebut adanya rangkaian enam pelinggih atau area utama yang berkaitan dengan perjalanan spiritual di dalam gua.

Karena merupakan tempat ibadah aktif, wisatawan sebaiknya memperlakukan Goa Giri Putri sebagai tempat suci, bukan sekadar objek wisata.

Sejarah Pura Paluang Nusa Penida

Pura Paluang merupakan salah satu pura paling unik di Nusa Penida.

Pura ini berada di kawasan Karangdawa, Desa Bunga Mekar. Keunikan utamanya terletak pada bentuk dua pelinggih yang menyerupai mobil. Salah satunya dikenal menyerupai VW Beetle, sementara yang lainnya menyerupai kendaraan jenis Jimny.

Karena keunikan tersebut, Pura Paluang sering disebut sebagai “Pura Mobil”.

Namun, penyebutan tersebut sebaiknya dipahami sebagai nama populer yang berkembang di kalangan masyarakat dan wisatawan. Pura Paluang tetap merupakan tempat suci dengan nilai spiritual dan budaya bagi masyarakat setempat.

Mengapa Ada Pelinggih Berbentuk Mobil?

Ada berbagai cerita masyarakat mengenai asal-usul bentuk pelinggih di Pura Paluang.

Salah satu cerita menyebut adanya pengalaman spiritual masyarakat yang kemudian menjadi dasar pembangunan pelinggih berbentuk kendaraan. Karena sumber cerita tersebut berasal dari tradisi lokal, kisahnya lebih tepat disebut sebagai cerita atau kepercayaan masyarakat daripada fakta sejarah yang telah diverifikasi secara arkeologis.

Kajian akademik mengenai Pura Paluang sendiri menegaskan bahwa keunikan bentuk pelinggih menjadi bagian penting dari nilai sejarah, spiritual dan budaya pura tersebut.

Sejarah Pura Dalem Bungkut Nusa Penida

Pura Dalem Bungkut berada di wilayah Desa Adat Ped, Nusa Penida.

Nama pura ini memiliki hubungan kuat dengan tokoh Dalem Bungkut atau Dalem Dukut dalam tradisi sejarah Nusa Penida. Karena itu, ketika membahas sejarah Pura Dalem Bungkut, pembahasannya tidak bisa dipisahkan dari cerita tentang penguasa Nusa Penida pada masa lalu.

Sejumlah sumber lokal menyebut Pura Dalem Bungkut sebagai salah satu pura tua di Nusa Penida. Lokasinya tercatat berada di kawasan Desa Adat Ped, termasuk di sekitar Banjar Bodong dan Tanah Bias.

Namun, klaim mengenai usia pura dan detail awal pembangunannya perlu diperlakukan hati-hati karena sumber tertulis yang tersedia tidak selengkap data administratif modern.

Sejarah Pura Segara Kidul Nusa Penida

Pura Segara Kidul atau Pura Segara Kidul Guyangan berada di bagian selatan Nusa Penida.

Pura ini terkenal karena lokasinya yang menghadap laut dan akses menuju kawasan pura yang cukup ekstrem. Pengunjung atau umat yang melakukan tirtha yatra harus melewati ratusan anak tangga di medan yang curam.

Pura Segara Kidul juga memiliki nilai spiritual yang kuat dalam tradisi masyarakat setempat.

Beberapa sumber mengenai pura tersebut menjelaskan keberadaan pelinggih yang dikaitkan dengan konsep Tri Murti dan kegiatan penyucian atau melukat.

Karena aksesnya cukup menantang, keselamatan menjadi hal penting bagi siapa pun yang hendak berkunjung.

Sejarah Broken Beach Nusa Penida

Broken Beach dikenal masyarakat lokal dengan nama Pasih Uug.

Nama Pasih Uug memiliki hubungan dengan karakter bentang alamnya. Dalam kajian bahasa, istilah tersebut berkaitan dengan makna laut atau pantai dengan kondisi yang rusak atau hancur. Istilah “Broken Beach” kemudian menjadi nama populer dalam bahasa Inggris.

Secara alamiah, kawasan ini memiliki formasi tebing dengan lubang besar dan lengkungan batu yang menjadi ciri khas pemandangannya.

Namun, masyarakat Nusa Penida juga memiliki cerita rakyat tentang asal-usul Pasih Uug.

Legenda Pasih Uug

Menurut cerita rakyat yang dicatat oleh Pemerintah Kecamatan Nusa Penida, dahulu terdapat masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.

Cerita kemudian berkembang mengenai peristiwa yang melibatkan seekor ular besar atau hewan yang dianggap memiliki kekuatan tertentu. Setelah terjadi peristiwa tersebut, kawasan permukiman diceritakan mengalami bencana besar hingga tenggelam dan membentuk bentang alam yang sekarang dikenal sebagai Pasih Uug.

Cerita tersebut merupakan legenda masyarakat, bukan penjelasan geologi.

Karena itu, artikel sejarah yang baik seharusnya menyajikan legenda sebagai bagian dari warisan budaya tanpa menganggapnya sebagai bukti ilmiah mengenai proses terbentuknya Broken Beach.

Sejarah Pantai Kelingking Nusa Penida

Pantai Kelingking merupakan salah satu destinasi paling terkenal di Nusa Penida.

Secara administratif, Pantai Kelingking berada di Desa Bunga Mekar, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pemerintah Indonesia melalui platform pariwisata resminya menjelaskan bahwa daya tarik kawasan ini berasal dari formasi tanjung dan tebing curam yang menjorok ke laut.

Nama Kelingking berkaitan dengan bentuk tanjung yang dianggap menyerupai jari kelingking.

Dalam perkembangan pariwisata modern, kawasan tersebut juga populer dengan sebutan T-Rex karena siluet tebingnya terlihat menyerupai kepala atau punggung dinosaurus jika dilihat dari sudut tertentu.

Bagaimana Kelingking Menjadi Destinasi Populer?

Kelingking pada dasarnya merupakan bentang alam pesisir. Popularitasnya kemudian meningkat pesat seiring penyebaran foto dan video melalui internet serta media sosial.

Perkembangan tersebut mengubah Kelingking dari kawasan yang relatif sepi menjadi salah satu ikon wisata Nusa Penida.

Meski demikian, sejarah popularitas modern Kelingking berbeda dengan sejarah terbentuknya kawasan tersebut. Bentuk tebing merupakan hasil proses geomorfologi alam, sedangkan ketenarannya sebagai destinasi wisata merupakan fenomena yang jauh lebih baru.

Budaya Nusa Penida

Budaya Nusa Penida memiliki karakter yang sangat kuat karena dipengaruhi oleh tradisi Hindu Bali, kehidupan masyarakat kepulauan dan sejarah spiritual yang panjang.

Salah satu ciri pentingnya adalah banyaknya pura yang menjadi pusat kehidupan keagamaan masyarakat.

Nusa Penida juga dikenal sebagai kawasan tirtha yatra. Banyak umat Hindu dari Bali dan wilayah lainnya datang untuk melakukan persembahyangan ke pura-pura penting seperti Pura Dalem Ped dan Goa Giri Putri.

Tari Baris Jangkang

Salah satu contoh warisan budaya Nusa Penida adalah Tari Baris Jangkang.

Tarian ini berkaitan dengan cerita tradisional tentang Dalem Bungkut dan konflik antara Nusa Penida dengan kekuasaan Bali. Dalam tradisi pertunjukan, tarian tersebut menggambarkan pasukan yang memiliki hubungan dengan kisah sejarah dan spiritual Nusa Penida.

Kehadiran seni pertunjukan seperti ini menunjukkan bahwa sejarah Nusa Penida tidak hanya tersimpan dalam buku atau pura.

Sejarah juga diwariskan melalui tarian, ritual, cerita rakyat, bahasa dan tradisi masyarakat.

Hubungan Sejarah Nusa Penida dengan Bali

Hubungan Nusa Penida dengan Bali sudah berlangsung dalam waktu yang panjang.

Sumber sejarah dan tradisi lokal menggambarkan adanya hubungan politik antara Nusa Penida dan kerajaan-kerajaan di Bali. Salah satu periode yang paling sering dibahas adalah hubungan dengan Kerajaan Gelgel dan kisah penaklukan pada masa Dalem Bungkut.

Dalam sumber kebudayaan Bali, kisah penaklukan Dalem Bungkut oleh pasukan Gelgel ditempatkan pada sekitar abad ke-17, dengan salah satu catatan resmi kebudayaan menyebut sekitar tahun 1625.

Setelah periode tersebut, hubungan Nusa Penida dengan wilayah Klungkung semakin kuat.

Warisan hubungan tersebut masih terlihat dari struktur administratif, budaya, pura, ritual dan hubungan masyarakat hingga sekarang.

Apakah Sejarah Nusa Penida Hanya Berasal dari Babad?

Tidak.

Sejarah Nusa Penida dapat dipelajari melalui beberapa jenis sumber, seperti dokumen pemerintahan, penelitian akademik, artefak, pura, tradisi lisan, babad, lontar dan kajian budaya.

Masalahnya, tidak semua sumber memberikan informasi dengan tingkat kepastian yang sama.

Data kependudukan dan administrasi, misalnya, dapat dirujuk ke BPS dan pemerintah daerah. Sementara cerita tentang tokoh seperti Dalem Bungkut atau asal-usul beberapa pura sering kali berasal dari babad, lontar dan tradisi masyarakat.

Karena itu, pembaca perlu melihat konteks masing-masing sumber.

Cara Membaca Sejarah Nusa Penida dengan Benar

Untuk memahami sejarah Nusa Penida secara lebih objektif, gunakan tiga pendekatan:

Data resmi untuk informasi administratif, penduduk, desa dan wilayah.

Penelitian akademik untuk kajian sejarah, budaya dan pura.

Babad, lontar dan cerita rakyat untuk memahami tradisi serta ingatan budaya masyarakat.

Ketiganya dapat saling melengkapi tanpa harus diperlakukan sebagai sumber dengan tingkat kepastian yang sama.

Fakta Penting tentang Nusa Penida

Jika kamu hanya membutuhkan ringkasan cepat, berikut beberapa fakta utama yang perlu diketahui:

InformasiKeterangan
ProvinsiBali
KabupatenKlungkung
KecamatanNusa Penida
Pulau utamaNusa Penida
Pulau lain dalam kecamatanNusa Lembongan dan Nusa Ceningan
Jumlah desa dinas16
Jumlah desa adat48
Luas kecamatanSekitar 202,84 km²
Penduduk 2024Sekitar 65,82 ribu jiwa
Pusat kecamatanBatununggul
Destinasi ikonikKelingking, Broken Beach, Goa Giri Putri, Paluang dan lainnya

Data wilayah dan kependudukan tersebut mengacu pada publikasi pemerintah daerah dan BPS yang tersedia hingga 2025.

Mengapa Sejarah Nusa Penida Penting Dipelajari?

Sejarah membantu menjelaskan mengapa Nusa Penida memiliki begitu banyak pura dan tradisi spiritual.

Tanpa memahami sejarahnya, wisatawan mungkin hanya melihat Pura Dalem Ped sebagai tempat ibadah, Goa Giri Putri sebagai gua, Pura Paluang sebagai pura dengan bentuk mobil, atau Broken Beach sebagai tempat berfoto.

Padahal, setiap lokasi tersebut memiliki konteks budaya yang berbeda.

Inilah yang membuat Nusa Penida lebih dari sekadar destinasi wisata. Pulau ini merupakan ruang tempat sejarah, agama, tradisi, alam dan kehidupan masyarakat berkembang secara bersamaan.

Catatan Penting Saat Membaca Sejarah Nusa Penida

Ada banyak versi mengenai sejarah Nusa Penida di internet.

Perbedaan tersebut terjadi karena sejarah pulau ini tidak hanya bersumber dari dokumen tertulis, tetapi juga dari babad, lontar, cerita rakyat dan tradisi lisan.

Karena itu, informasi seperti tahun berdirinya pura, identitas tokoh tertentu, asal-usul nama tempat dan cerita supernatural sebaiknya dibaca sesuai konteks sumbernya.

Untuk informasi administratif dan statistik, gunakan data pemerintah terbaru. Untuk cerita sejarah dan budaya, bandingkan beberapa sumber sebelum menarik kesimpulan.

Kesimpulan

Sejarah Nusa Penida merupakan perpaduan antara sejarah politik, kerajaan, tradisi Hindu, budaya masyarakat, cerita rakyat dan perkembangan pariwisata modern. Nama Dalem Bungkut, Kerajaan Gelgel, Pura Dalem Ped, Goa Giri Putri, Pura Paluang, Pura Dalem Bungkut, Pura Segara Kidul, Broken Beach dan Kelingking menjadi bagian dari cerita panjang tersebut.

Secara administratif, Nusa Penida kini merupakan kecamatan di Kabupaten Klungkung yang mencakup tiga pulau berpenghuni dan 16 desa dinas. Data terbaru pemerintah menunjukkan jumlah penduduknya sekitar 65,82 ribu jiwa pada 2024.

Yang menarik, sejarah Nusa Penida tidak berhenti pada masa kerajaan. Warisannya masih bisa ditemukan dalam pura, upacara, tirtha yatra, seni pertunjukan, cerita rakyat dan kehidupan masyarakat hingga sekarang.

Jadi, jika kamu berkunjung ke Nusa Penida, jangan hanya melihat pulau ini dari sisi pantai dan pemandangannya. Memahami sejarahnya akan membuat perjalanan ke Kelingking, Broken Beach, Goa Giri Putri, Pura Dalem Ped maupun Pura Paluang terasa jauh lebih bermakna.

Tags: Wisata Alam

Related Posts

Search