Alas Kedaton Tabanan 2026, Tiket, Lokasi dan Daya Tariknya

Superadmin 06 October 2026 77 views
Alas Kedaton Tabanan 2026, Tiket, Lokasi dan Daya Tariknya

Alas Kedaton adalah wisata hutan monyet di Tabanan yang memadukan alam, satwa, dan budaya Bali. Cek lokasi, tiket 2026, sejarah, review, dan tips sebelum berkunjung.

Bali, 8islandadventure.com - Alas Kedaton adalah kawasan hutan wisata di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali, yang dikenal karena keberadaan kera ekor panjang, pepohonan rindang, serta pura yang berada di tengah kawasan hutan. Tempat ini menjadi salah satu alternatif wisata alam dan budaya Bali selain kawasan Monkey Forest Ubud dan Sangeh.

Berbeda dari destinasi wisata Bali yang identik dengan pantai, Alas Kedaton menawarkan pengalaman menyusuri kawasan hijau sambil melihat satwa yang hidup di sekitar hutan. Sebelum berkunjung, ada beberapa hal penting yang perlu kamu ketahui, terutama mengenai tiket, jam operasional, kondisi kawasan, sejarah pura, hingga tips aman berhadapan dengan monyet.

Alas Kedaton ada di mana?

Alas Kedaton berada di Jalan Raya Alas Kedaton, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Kawasan ini berada di jalur wisata Tabanan dan relatif mudah dijangkau menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan wisata.

Secara administratif, Alas Kedaton berada di wilayah Kecamatan Marga. Pemerintah Kecamatan Marga mencatat kawasan ini sebagai salah satu objek wisata di wilayahnya dengan luas sekitar 12 hektare dan menjadi habitat kera ekor panjang.

Letaknya membuat Alas Kedaton cukup menarik untuk dimasukkan ke dalam rute perjalanan wisata Bali bagian tengah dan barat. Wisatawan dapat menggabungkannya dengan sejumlah destinasi lain di sekitar Tabanan sesuai arah perjalanan.

Alamat Alas Kedaton

Alamat yang umum digunakan untuk menuju lokasi adalah:

Jalan Raya Alas Kedaton

Desa Kukuh

Kecamatan Marga

Kabupaten Tabanan

Bali 82121

Untuk perjalanan, sebaiknya gunakan aplikasi navigasi dan cari nama “Alas Kedaton” atau “Alas Kedaton Monkey Forest”. Pastikan tujuan yang dipilih mengarah ke kawasan wisata, bukan sekadar jalan raya di sekitar Desa Kukuh.

Seberapa jauh Alas Kedaton dari Denpasar?

Jaraknya dari Denpasar bergantung pada titik keberangkatan dan kondisi lalu lintas. Sejumlah sumber perjalanan menempatkannya sekitar 20-an kilometer dari Denpasar, sementara jarak berkendara dapat berbeda berdasarkan rute yang digunakan.

Karena perjalanan di Bali sangat dipengaruhi kepadatan lalu lintas, waktu tempuh sebaiknya tidak dihitung hanya berdasarkan jarak di peta. Berangkat lebih pagi juga bisa membuat perjalanan terasa lebih nyaman.

Tiket masuk Alas Kedaton 2026

Harga tiket menjadi salah satu informasi yang paling banyak dicari ketika orang ingin mengunjungi Alas Kedaton.

Untuk 2026, ada perbedaan antara rencana kenaikan tarif dan tarif yang masih dilaporkan berlaku di lapangan. Karena itu, kamu perlu berhati-hati dengan artikel lama yang langsung mencantumkan tarif Rp70.000 sebagai harga yang sudah pasti berlaku.

Laporan terbaru pada Juni 2026 menyebut pengelola masih menerapkan tarif lama, yaitu Rp20.000 untuk wisatawan domestik dewasa dan Rp30.000 untuk wisatawan mancanegara dewasa. Untuk anak-anak, laporan tersebut menyebut tarif Rp15.000 bagi wisatawan domestik dan Rp20.000 bagi wisatawan asing, sedangkan masyarakat lokal Bali dikenakan Rp10.000.

KategoriTarif yang dilaporkan berlaku
Wisatawan domestik dewasaRp20.000
Wisatawan domestik anak-anakRp15.000
Wisatawan asing dewasaRp30.000
Wisatawan asing anak-anakRp20.000
Masyarakat lokal BaliRp10.000

Perlu dicatat, pengelola sebelumnya memang merencanakan kenaikan tarif wisatawan asing menjadi Rp70.000 untuk dewasa dan Rp60.000 untuk anak-anak mulai 2026. Namun laporan Juni 2026 menyatakan tarif lama masih digunakan karena kenaikan tersebut masih dalam tahap kajian.

Jadi, jika kamu mencari “tiket masuk Alas Kedaton 2026”, gunakan angka di atas sebagai acuan berdasarkan laporan terbaru yang tersedia, tetapi tetap siapkan kemungkinan perubahan harga ketika datang langsung.

Jam buka Alas Kedaton

Informasi jam operasional yang beredar saat ini berada di kisaran pagi hingga sore. Traveloka mencantumkan jam 09.00-18.00, sementara sejumlah sumber perjalanan mencantumkan jam yang sedikit berbeda.

Karena terdapat perbedaan informasi antarsumber, waktu terbaik untuk datang adalah pagi atau siang hari dan melakukan konfirmasi langsung jika perjalanan dilakukan pada hari tertentu.

Untuk itinerary, kamu bisa menyediakan waktu sekitar satu hingga dua jam untuk menikmati kawasan secara santai. Jika ingin berfoto, melihat satwa, atau menggunakan jasa pemandu, waktu kunjungan bisa lebih lama.

Apa yang menarik dari Alas Kedaton?

Daya tarik utama Alas Kedaton bukan hanya monyet. Kawasan ini merupakan perpaduan antara hutan, satwa liar, pura, serta tradisi masyarakat Bali yang membuat pengalaman berkunjung terasa berbeda.

Pemerintah Kecamatan Marga menyebut kawasan Alas Kedaton memiliki luas sekitar 12 hektare. Area hutannya memberikan suasana teduh dan menjadi habitat bagi kera ekor panjang yang menjadi salah satu ikon tempat wisata tersebut.

Hutan dan kera ekor panjang

Begitu memasuki kawasan, keberadaan kera menjadi salah satu hal yang paling mudah ditemukan.

Kera ekor panjang atau Macaca fascicularis hidup di kawasan hutan dan dapat terlihat berada di pepohonan maupun area yang dilalui pengunjung. Jumlah populasi yang diberitakan dari waktu ke waktu berbeda, sehingga sebaiknya tidak menggunakan satu angka populasi sebagai data mutlak.

Pengalaman melihat kera dari dekat menjadi alasan utama banyak wisatawan datang ke Alas Kedaton.

Namun, perlu diingat bahwa kera tetap merupakan satwa liar. Walaupun ada pengunjung yang menilai kera di Alas Kedaton relatif jinak, perilaku satwa dapat berubah ketika merasa terganggu, terancam, atau tertarik dengan makanan.

Pura Alas Kedaton

Di tengah kawasan hutan terdapat Pura Dalem Kahyangan Kedaton yang sering disebut masyarakat sebagai Pura Alas Kedaton.

Pura ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat. Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali menyebut kawasan pura berada di dalam hutan yang dikenal sebagai Alas Kedaton dan memiliki tinggalan arkeologis yang berkaitan dengan tradisi masa lampau.

Karena merupakan tempat suci, wisatawan sebaiknya tidak memperlakukan area pura seperti objek wisata biasa. Hormati aktivitas keagamaan, ikuti aturan setempat, dan gunakan pakaian yang sopan apabila memasuki area yang diperbolehkan.

Kelelawar atau kalong

Selain monyet, kelelawar besar atau kalong juga menjadi bagian dari daya tarik Alas Kedaton.

Hewan tersebut dapat terlihat bergelantungan di pepohonan pada area tertentu. Keberadaan kalong membuat suasana Alas Kedaton berbeda dari destinasi monkey forest lainnya di Bali.

Bagi penggemar fotografi alam, kombinasi pepohonan, monyet, kalong, serta bangunan pura menjadi objek yang cukup menarik.

Sejarah Alas Kedaton

Sejarah Alas Kedaton tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Pura Dalem Kahyangan Kedaton.

Nama Alas Kedaton secara umum dijelaskan berasal dari kata “alas” yang berarti hutan dan “kedaton” yang berkaitan dengan kerajaan atau tempat raja. Namun, penjelasan sejarah dan cerita lokal mengenai asal-usul nama tersebut memiliki beberapa versi.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali menyebut kawasan pura berada di dalam hutan yang dikenal sebagai Alas Kedaton, yang dimaknai sebagai “hutan milik kerajaan”. Penelitian arkeologi di kawasan tersebut juga menunjukkan adanya tinggalan yang berkaitan dengan tradisi megalitik dan masa prasejarah.

Pura Alas Kedaton dibangun oleh siapa?

Dalam sumber-sumber sejarah Bali, Pura Dalem Kahyangan Kedaton dikaitkan dengan Mpu Kuturan atau Mpu Rajakertha pada masa pemerintahan Raja Sri Masula Masuli.

Salah satu rujukan yang sering digunakan adalah Prasasti Sading di Mengwi, Badung. Tradisi sejarah setempat mengaitkan pendirian pura dengan masa pemerintahan Sri Masula Masuli sekitar abad ke-12 hingga ke-13 Masehi.

Karena informasi sejarah pura berasal dari perpaduan sumber tertulis, tradisi lokal, dan kajian arkeologi, pembaca sebaiknya membedakan antara fakta sejarah yang memiliki sumber dan cerita atau kepercayaan masyarakat yang berkembang secara turun-temurun.

Apa yang membuat Pura Alas Kedaton unik?

Salah satu keunikan Pura Alas Kedaton adalah keberadaannya di tengah kawasan hutan yang masih menjadi habitat satwa.

Sumber kebudayaan juga mencatat adanya tinggalan arkeologis berupa unsur-unsur batu dan arca yang memiliki kaitan dengan tradisi keagamaan masa lampau. Hal tersebut membuat kawasan ini bukan sekadar tempat untuk melihat monyet, tetapi juga memiliki nilai budaya dan sejarah.

Pura ini tetap menjadi tempat suci bagi masyarakat setempat. Karena itu, aktivitas wisata harus berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap fungsi keagamaan pura.

Alas Kedaton Monkey Forest berbeda dengan Monkey Forest Ubud

Istilah “Alas Kedaton Monkey Forest” sering digunakan dalam platform perjalanan untuk memudahkan wisatawan mengenali destinasi ini. Namun, Alas Kedaton bukanlah Monkey Forest Ubud.

Keduanya berada di lokasi dan pengelolaan kawasan yang berbeda.

Monkey Forest Ubud berada di Kabupaten Gianyar dan dikenal sebagai salah satu destinasi wisata populer di Ubud. Sementara itu, Alas Kedaton berada di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan.

Alas Kedaton cenderung menawarkan pengalaman yang lebih sederhana dan bernuansa hutan serta budaya lokal. Karena tingkat kunjungan tidak sebesar destinasi populer di Ubud, suasananya juga bisa terasa lebih tenang pada hari-hari tertentu.

Jika kamu mencari tempat yang lebih santai untuk melihat monyet tanpa suasana destinasi yang terlalu padat, Alas Kedaton dapat menjadi alternatif.

Review Alas Kedaton dari pengunjung

Sebelum menentukan apakah Alas Kedaton layak dikunjungi, review pengunjung menjadi salah satu pertimbangan yang penting.

Ulasan online menunjukkan pengalaman yang cukup beragam. Sebagian pengunjung memuji suasana hutan yang rindang, keberadaan monyet, serta suasana yang relatif sepi. Di sisi lain, ada pula komentar yang menilai beberapa bagian kawasan membutuhkan penataan dan pengembangan lebih lanjut.

Agregator ulasan yang mengumpulkan data Google dan Tripadvisor juga menunjukkan penilaian yang cukup beragam, sehingga pengalaman setiap wisatawan tidak selalu sama.

Kelebihan yang sering disebut

Beberapa hal positif yang muncul dalam ulasan pengunjung antara lain:

Suasana hutan terasa teduh dan sejuk.

Monyet mudah ditemukan.

Kawasan relatif tenang pada hari tertentu.

Ada unsur budaya berupa pura.

Bisa menjadi pilihan wisata keluarga dan edukasi.

Menawarkan pengalaman berbeda dari wisata pantai Bali.

Lokasi cocok dimasukkan dalam perjalanan wisata Tabanan.

Kekurangan yang perlu diketahui

Ada pula beberapa catatan yang cukup sering muncul dalam review:

Sebagian area dinilai membutuhkan penataan.

Beberapa fasilitas atau kios tidak selalu aktif.

Aktivitas wisata tidak sebanyak destinasi populer di Bali.

Pengunjung perlu berhati-hati terhadap barang bawaan ketika berada dekat monyet.

Pengalaman dengan pemandu atau pedagang dapat berbeda antara satu kunjungan dan kunjungan lainnya.

Dari review tersebut, Alas Kedaton lebih cocok bagi wisatawan yang memang tertarik dengan alam, satwa, fotografi, dan budaya Bali. Jika kamu menginginkan destinasi dengan banyak wahana modern dan aktivitas sepanjang hari, tempat ini mungkin terasa terlalu sederhana.

Alas Kedaton cocok untuk siapa?

Alas Kedaton cukup fleksibel untuk beberapa jenis wisatawan.

Tempat ini cocok untuk keluarga yang ingin mengenalkan anak pada satwa dan lingkungan, selama anak selalu berada dalam pengawasan orang dewasa.

Pecinta fotografi juga dapat menikmati suasana pepohonan, kera, pura, dan kalong sebagai objek foto. Namun, fotografi satwa sebaiknya dilakukan dari jarak aman dan tidak mengganggu perilaku alami hewan.

Alas Kedaton juga menarik bagi wisatawan yang ingin mencari suasana lebih tenang dibanding destinasi Bali yang sangat ramai.

Sebaliknya, kamu mungkin perlu mempertimbangkan destinasi lain jika tujuan utama liburan adalah wahana permainan, pusat kuliner besar, aktivitas ekstrem, atau tempat dengan banyak spot foto modern.

Tips aman berkunjung ke Alas Kedaton

Karena Alas Kedaton merupakan habitat kera yang dapat berinteraksi langsung dengan manusia, keamanan barang dan perilaku pengunjung perlu menjadi perhatian utama.

Simpan barang yang mudah menarik perhatian

Kacamata, topi, makanan, botol minuman, plastik, dan benda kecil lainnya sebaiknya disimpan dengan aman.

Jangan menunjukkan makanan kepada monyet jika kamu tidak siap dengan kemungkinan hewan tersebut mendekat.

Jangan mengganggu monyet

Hindari berteriak, mengejar, menyentuh, atau mencoba mengambil anak monyet.

Jangan pula melakukan tindakan yang membuat satwa merasa terancam hanya demi mendapatkan foto.

Jika seekor monyet mendekat, tetap tenang dan jangan melakukan gerakan tiba-tiba.

Ikuti arahan pemandu

Jika tersedia pemandu lokal, dengarkan arahan mereka mengenai jalur dan cara berinteraksi dengan satwa.

Pemandu biasanya lebih memahami kondisi kawasan dan perilaku hewan dibanding pengunjung yang baru pertama datang.

Jangan memberi makanan sembarangan

Makanan manusia tidak otomatis aman untuk satwa.

Jika terdapat aktivitas pemberian pakan yang diperbolehkan pengelola, ikuti aturan dan jenis makanan yang diarahkan oleh petugas. Jangan membawa makanan sendiri lalu memberikannya secara sembarangan.

Hormati kawasan pura

Ingat bahwa Pura Alas Kedaton bukan sekadar latar foto.

Kenakan pakaian yang pantas, jangan memasuki area yang dilarang, dan jangan mengambil foto ketika ada aktivitas keagamaan jika hal tersebut tidak diperbolehkan.

Apakah Alas Kedaton masih layak dikunjungi pada 2026?

Jawabannya: masih layak, terutama jika kamu mencari wisata alam dan budaya yang lebih sederhana di Tabanan.

Alas Kedaton memang tidak menawarkan skala atraksi seperti destinasi wisata Bali yang sangat populer. Namun, daya tarik utamanya justru berada pada pengalaman melihat kera di lingkungan hutan, menikmati pepohonan rindang, serta mengenal keberadaan pura yang memiliki nilai sejarah.

Pengelola juga masih melakukan pengembangan kawasan. Pada 2025, Pemerintah Kabupaten Tabanan dan sejumlah pihak melakukan kegiatan lingkungan di Alas Kedaton, sementara pemerintah daerah masih memasukkannya dalam promosi destinasi wisata 2026.

Jadi, jangan datang dengan ekspektasi bahwa Alas Kedaton merupakan taman hiburan modern. Datanglah untuk menikmati hutan, satwa, suasana tenang, dan sisi budaya Bali.

Waktu terbaik mengunjungi Alas Kedaton

Pagi hingga menjelang siang dapat menjadi pilihan yang nyaman karena udara biasanya belum terlalu panas.

Jika ingin mendapatkan pengalaman yang lebih tenang, hindari periode ketika kawasan sedang ramai oleh rombongan wisatawan atau kegiatan hari raya.

Namun, hari besar keagamaan tertentu juga bisa menghadirkan pengalaman berbeda karena kawasan Alas Kedaton dapat diramaikan oleh aktivitas budaya masyarakat setempat.

Kamu bisa memilih waktu kunjungan berdasarkan tujuan. Untuk fotografi dan suasana santai, pilih waktu yang tidak terlalu ramai. Untuk melihat kegiatan budaya, perhatikan kalender kegiatan keagamaan dan informasi dari pengelola.

Apa saja yang bisa dilakukan di Alas Kedaton?

Aktivitas di Alas Kedaton memang tidak sebanyak taman wisata modern, tetapi ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan.

Berjalan menyusuri kawasan hutan.

Mengamati kera ekor panjang.

Melihat kalong atau kelelawar.

Mengenal Pura Dalem Kahyangan Kedaton.

Mengambil foto suasana hutan.

Mengamati pepohonan dan lingkungan sekitar.

Menggunakan jasa pemandu lokal jika tersedia.

Menikmati suasana wisata yang relatif tenang.

Mengenalkan satwa dan lingkungan kepada anak.

Untuk aktivitas fotografi, jangan hanya mengejar foto dekat dengan monyet. Foto suasana hutan, pura, pepohonan, dan interaksi satwa dengan lingkungan justru dapat menghasilkan dokumentasi yang lebih menarik.

Fasilitas di sekitar Alas Kedaton

Fasilitas wisata dapat berubah mengikuti kondisi pengelolaan. Informasi perjalanan yang tersedia mencantumkan area parkir, toilet, tempat ibadah, serta fasilitas pendukung lainnya.

Di sekitar kawasan juga terdapat aktivitas perdagangan lokal seperti warung dan toko suvenir.

Namun, beberapa review terbaru menunjukkan bahwa sebagian kios atau fasilitas komersial tidak selalu buka. Karena itu, jangan mengandalkan seluruh kebutuhan perjalanan hanya dari fasilitas di dalam kawasan.

Sebaiknya makan terlebih dahulu atau membawa kebutuhan pribadi secukupnya sebelum masuk, terutama jika datang bersama anak-anak.

Bagaimana dengan Indomaret, klinik, ACK dan dokter di sekitar Alas Kedaton?

Beberapa pencarian yang muncul di internet menggunakan kata kunci seperti “Indomaret Alas Kedaton”, “klinik Alas Kedaton”, “ACK Alas Kedaton”, hingga “dokter di Alas Kedaton”.

Namun, nama tersebut tidak sebaiknya dimasukkan sebagai fasilitas resmi Alas Kedaton tanpa verifikasi alamat dan status operasional terbaru.

Jika kamu membutuhkan obat, makanan, atau layanan medis, gunakan Google Maps untuk mencari fasilitas terdekat berdasarkan lokasi aktual ketika berada di Desa Kukuh. Informasi bisnis lokal dapat berubah lebih cepat daripada artikel wisata, termasuk jam buka, nama outlet, dan status operasional.

Untuk kebutuhan medis yang mendesak, jangan mengandalkan fasilitas wisata. Cari fasilitas kesehatan terdekat atau layanan darurat yang tersedia di wilayah Tabanan.

Alas Kedaton untuk foto dan konten media sosial

Alas Kedaton cukup menarik untuk kebutuhan foto karena memiliki kombinasi elemen alam dan budaya.

Kamu bisa mengambil gambar pepohonan, jalur di dalam hutan, kera yang sedang beraktivitas, kalong, serta bagian luar kawasan pura yang memang diperbolehkan untuk difoto.

Jika mencari “Alas Kedaton photos” atau “Alas Kedaton foto”, hasil gambar di internet dapat memberikan gambaran umum tentang kawasan. Namun, kondisi tempat bisa berubah sehingga foto lama tidak selalu menggambarkan situasi terbaru.

Untuk mendapatkan foto yang lebih natural, gunakan pencahayaan pagi dan hindari terlalu dekat dengan satwa.

Kesimpulan

Alas Kedaton adalah kawasan hutan wisata di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali, yang terkenal dengan kera ekor panjang, suasana hutan yang rindang, kalong, serta Pura Dalem Kahyangan Kedaton. Destinasi ini menawarkan perpaduan wisata alam, satwa, sejarah, dan budaya yang berbeda dari wisata pantai maupun kawasan Monkey Forest Ubud.

Untuk 2026, informasi tiket perlu diperhatikan karena sempat ada rencana kenaikan tarif wisatawan asing. Laporan terbaru yang tersedia pada Juni 2026 menyebut tarif lama masih diterapkan, sehingga wisatawan sebaiknya mengecek kembali harga di loket sebelum datang.

Jika kamu ingin menikmati destinasi Bali yang lebih tenang dan tidak terlalu berorientasi pada wahana modern, Alas Kedaton masih layak dimasukkan dalam itinerary. Namun, datanglah dengan ekspektasi yang tepat, hormati pura dan masyarakat setempat, serta selalu menjaga jarak dan keamanan ketika berinteraksi dengan monyet.

Tags: Bali

Related Posts

Search